Tuesday, September 30, 2008

Pacaran

Sering kali timbul sebuah tanya dihatiku "Mengapa orang ingin punya pacar?"

Apakah sekedar life style?
Apakah karna ngikut temen?
Apakah karna emang ngiri, kalau jalan ke mall ga ada yang di gandeng?
Apakah karna usia yang udah sewaktunya?
Apakah hanya karna kepengen?
Apakah karna tuntutan orang tua?
Atau, karna pengen ada yang nemenin ke pesta ato acara penting lainnya?
Atau karna perasaan sepi dan sunyi?
Atau karna pengen diperhatikan?
Atau karna pengen coba-coba?

Aku kadang heran, napa hal ini perlu dikhawatirkan sebagian besar orang. Padahal seharusnya punya pacar atau tidak, itu tidaklah menjadi masalah.
Beberapa waktu yang lalu, aku baca sebuah artikel kristen yang bilang 'Seharusnya kita jomblo atau tidak itu gak masalah. Tidaklah perlu sedih atau tertekan karena status jomblo yang disandang. Tidak ada yang salah dengan status jomblo. Sekarang tinggal kita yang menyandang status itu yang menyingkapinya, apakah kita akan memancarkan kondisi negatif atau positif. Berpikirlah positif dengan keberadaan kamu sekarang. Banyak yang dapat dilakukan meski kita jomblo, berpikir positiflah. Atau memang masih seharusnya kita lebih memperhatikan keluarga dan sahabat kita. Sudah seharusnya kita melakoni sesuatu dan berpikir positif, agar hal yang terpancar dari dalam diri kita juga positif.'

Aku setuju banget dengan pernyataan itu. Untuk apa coba harus memaksakan diri?

Aku malah lebih setuju untuk menjalani suatu hubungan jikalau memang aku sadar DIA adalah penyempurna kekurangan dalam hidupku. Aku bukan hanya membutuhkan DIA untuk menemaniku ke acara-acara, mall, dll tapi aku membutuhkan DIA dalam hidupku. DIA stimulun penyempurna hidupku. Dimana aku mampu menerima kelemahan dan kelebihan DIA, begitu juga sebaliknya.
Karna bagi ku Pacaran itu adalah sekolah, dan jika Tuhan berkenan akan naik tingkat ke jenjang Pernikahan. Dan dari banyak artikel dan buku kristen yang aku baca, Pernikahan itu sendiri tidak pernah mengenal kata lulus atau tamat, itu adalah proses belajar seumur hidup. Dimana masing-masing orang saling belajar untuk menyesuaikan diri dan tidak saling menyalahkan dan menyakiti, melainkan saling membangun dan bekerjasama sehingga mencapai hubungan yang lebih baik lagi. Pasangan kita adalah orang-orang yang Tuhan berikan dimana kita dan DIA dapat tumbuh dan dewasa bersama.

Dan jikalau aku belum merasa itu ada dalam diri seseorang, mengapa aku harus paksakan 'in relationship' dengannya? Gak ada yang pelu dipaksakan bukan?

Jadi buat mereka yang memang lagi mencari-cari pasangan yang tepat. Just pray and wait what His willing. Dalam doa, iman, dan pengharapan ga ada yang sia-sia dan kosong.

Moga sukses yach!

Wedding Songs

Kantor lagi sepi ga ketulungan..... tinggallah kami yang tidak mengambil cuti di bulan ini. Mengambil cuti di bulan Desember sih.

Udah BT abis neh dikantor, ga tau mau ngapain. Ternyata ga semangat juga jika rekan satu team kita ga ada. Kita satu team itu ada empat, ada SH, AS, EW, dan aku sendiri SA. Beliau bertiga sih cutinya sekarang.
Then, yang sangat aku syukuri tiba-tiba MH nawarin aku film neh di sharingannya dia.

MH : Yumi suka nonton gak?
SA : Yupi
MH : Suka Smallville?
SA : Yupi
MH : Ada di sharingan aku, ada Knight Rider lagi klo kamu lom nonton sih.
SA : Muaaakkkkuuaaassssiiihh buannnyyaakk yach!!

Jadi lah aku nonton. Tapi si big boss yang kemaren ga masuk kerja siang ini jam 14.00 tiba-tiba muncul, gagal dech rencana berpesta nontonya. Langsung dech window nonton dimatiin. Kembali buka Eclipse.

Akhirnya hanya denger 'wedding songs' dech aku, mengingat tulang aku mau nikah, pengen denger lagu yang pas. Tapi kalau aku perhatiin sih list 'wedding songs' di share MH adalah lagu yang udah sering aku dengar sih.

Uyah siapa tau ada yang kepengen nyari-nyari 'wedding songs' neh aku kasih list dengan referensi Sharingan PC MH. Adapun lagu-lagu tersebut antara lain:
1. Eternal Flame
2. Now ang Forever (Richard Marx)
3. Hero
4. Every Breath You Take (The Police)
5. When you Believe (Mariah Carey)
6. More than words can say (alias)
7. Take my breath away (Berlin)
8. Truly Madly Deeply (Savage Garden)
9. You are the shineshine of my life (Stevie Wonder)
10. All by myself
11. Beautiful in my eyes (Joshua Kadison)
12. Kiss from a rose (Seal)
13. Here we are (Gloria Estefan)
14. Just the way you are (The Stranger)
15. Heaven-Accoustic verssion (Bryan adams)
16. Every thing I do (Bryan Adams)
17. Let it be me (The Everly Brothers)
18. Love me tommorow (Chikago)
19. Friends
20. The One (Elton Jhon)
21. Songbird (Rumours)
22. Nothing Gonna Change My love for you (Glenn Medeirons)
23. Beautiful (Gord's Gold)
24. Crazy for you Madonna (Immaculate)
25. On the wings of love (Jeffery Osborn)
26. You're still the one (Shania Twain)
27. At the beggining (Richard marx)
28. A dream is a wish your heart makes (van tomiko)
29. Falling in love (Whitney Huston)
30. Thank you for loving me
31. Romeo & Juliet
32. One moment in time
33. Can't help falling in love
34. A whole new world
35. I finally found someone
36. Can you feel the love tonight
37. There is love
38. Because you love me
39. Whene I fall in love
40. Wonderful world
41. Endless love
42. From this moment
43. The best is yet come
44. Close to you

Tapi sepertinya kalau ditambahkan karya-karnya Jim Brickman lebih seru tuh..

hehehhehehhehehehhe

In hurry

Wah.. apes banget emang hari ini...

Sejak sabtu kemaren aku udah kurang enak badan, ditambah lagi minggu nemenin ade aku jalan-jalan. Jadilah senin hari yang menyakitkan buatku. Mejaku penuh dengan tisue bekas idung mampek, mata berair, tiduran geh di depan komputer sambil nutup idung yang selalu meler ini.
Tiba-tiba dapat pesan dari Cindy, pirik aku yang abangnya calon dokter, 'Pirik kata bang MP, klo kecapean itu sebelum beraktifitas makannya teratur, terus minum minuman berion trs minum vitamin suplement dungs. cpt sembuh yah!!'
Heheheeee.... Emang bener banget tuh.. pulang kerja aku langsung beli semua yang di-sms-in tu dan langsung tidur pulas jam 20.00.

Wieh.. pagi ini rasanya seger banget.

Tadi pagi ku terbangun jam 06.50 itupun karena telepon dari seorang temen lama, temen satu kantor aku kemaren di kantor lama, Winzaldy.

Win : Hallo.. Nia masih tidur
Me : Hmmmmm
Win : Woi.. bangun. Malu dungs ma matahari... matahari da senyum duluan tuh mendahului qm...

yah elah, sial... Win balekin kata-kata yang pernah aku bilang ke dia.. Dia cerita panjang lebar soal kantor lama. Tapi yang ga nahan lagi tuh kata-kata terakhirnya

Win : Heheehhee, makanya kalau mandi itu jam 6 ato jam 5. Perempuan wajib bangun pagi soalnya harus masak buat anak-anak. Mandi pagi itu sehat loch. Tapi kalau aku sih ga apa-apa, soalnya laki-laki. Hehee
Me : OMG PDA, ternyata da jam 7.15. Udah dulu yah..

Jadilah hari yang lumayan 'terburu-buru' pagi ini.

Abies mandi, baru dech nyadar. Ada 8 SMS pagi ini yang nnyain keadaan q beserta ucapan menyambut hari baru, dan ada 10 Miss Call. wkhekekehekekhekheeee... sepertinya telingaku ketutup balok gede dari tadi malam, ga denger hand phone bunyi. hehehheeeee.

wieh, beres-beres mau ngantornya jadi buru-buru dengs... tanpa sarapan dan laen-laen.. langsung ke kantor.. hehhehehehe

Thx banyak buat yang udah nyemangatin ku pagi ini dan meyakinkan aku kalau aku bisa melakukan itu semua... Makasih banyak... Miss u so much, u know.....

Sorry yah buat yang SMS dan Telepon dari tadi malam sampe pagi tadi. Ntr dengs tak hubungi sampean. Hehehheheeee.

Thursday, September 25, 2008

Tentang programmer

Beberapa waktu yang lalu, aku baca di www.kompas.com ternyata lelaki itu kurang senang akan profesi wanita sebagai programmer, alasannya sih sangat klasik menurutku hanya 'lupa dandan'. Beginilah kira-kira pernyataannya, Asli dech

"Memang profesi ini membuat perempuan terlihat cerdas. Jarang lho, perempuan paham soal ini. Sayang, gara-gara memikirkan program, ia jadi lupa dandan, ha-ha-ha.... Itu banyak saya lihat di lingkungan kerja saya." Dwinanto (30), staf IT

Asli dech setelah baca itu aku mikir, bener ga yah! Secara garis besar sih itu bisa diterima, masalahnya profesi sebagai programmer itu kan gak nuntut berpenampilan exclusif gitu tiap hari. Kalau istilah aku dan teman-teman sih, IT itu selalu bekerja dibelakang layar. Profesi IT itu tidak seperti marketing atau sekertaris yang secara gak langsung menekankan untuk tampil menarik karna berhubungan langsung dengan customer atau client. Kalau IT atau katakanlah programmer itu lebih banyak berinteraksi dengan komputer yang diam ini, mengutak-atik tuts keyboard untuk mengetikkan beberapa line code pemecahan persoalan. :).

Teman aku yang pria juga pernah becanda ke aku...

Him : Pakai rok dong yah tiap hari, sukseslah yah tebar pesonanya
Me : Gak lah.... pakai jeans malah
Him : Lho kq?
Me : Klo aku mau pake kaos buat ngantor juga bisa
Him : Parah banget sih, kan da ngantor.
Me : Programmer itu beda... ga perlu tampil exclusif yang jeles kerja beres... Hehehhehehehhehe

Pernah juga seorang pria bilang ke aku
Him : Ga enak banget profesi kamu
Me : Maksudnya?
Him : Yah iyalah, kerja kamu itu loch kaya cowo aja. Ga nyaman banget.
Me : Wah kamu salah kali, kamu jangan lihat sibuknya dungs lihatlah dari sisi tanggungjawab dan profesionalismenya, yang jeles aku menikmati dan mensyukuri keberadaan aku yang sekarang.

Kalau yang ini sih ga bisa kasih koment deh aku, soalnya dari dulu emang aku udah kerja bareng cowo-cowo mulu. hehehhehe.. Tapi it's nice

Dulu waktu kerja di perusahaan lama sih (end user), semua hal itu teratur dan rapi, programmer juga pakai kemeja. Kemaren ada satu project yang mengundang out sourching, dan disanalah aku mulai sadar kalau memang programmer itu identik banget dengan bebas. Baik dari pakayan, alas kaki, rambut, dll, merokok di ruangan malah. Untungnya diruangan aku itu kemaren ada anjuran untuk tidak merokok, asli dech tu anak berjam-jam di tangga buat nge-rokok.

Kalau dikantor baru sih kelihatan banget kali yah, misalnya neh ada acara jalan-jalan bareng wieh suara programmernya ga kelihatan dalam pembahasan itu. :)

Beberapa waktu yang lalu ada juga pembahasan di sebuah milist yang ku temui mengenai hal ini, dan disebutin bahwa 'Orang IT ber-EQ rendah?', wieh how come? Tapi setelah baca ulasan artikelnya barulah diriku sedikit mengerti mengapa. Buat orang-orang yang berprofesi sebagai IT atau tepatnya programmer jangan tersinggung yah. Kita sama koq. hehhehe
Peace All..

Beginilah isi artikel itu.....

*Artikel Dari Sebuah harian*

Pak Anthony Dio Martin,

Saya pernah mendengar Anda membahas di siaran radio soal orang IT (information technology) yang EQ (kecerdasan emosional)-nya rendah. Saya pun punya masalah yang sama. Seorang manajer di tempat kami yang berada di IT, orangnya pinter tapi kemampuan sosialnya kurang. Kalau bicara, sering saya tidak paham, begitu juga yang lainnya. Jadinya seringkali terjadi perdebatan.

Tadinya kupikir saya yang kurang pintar. Masalahnya, dia pegang sistem yang penting yang jadi jantungnya perusahaan. Orangnya pun saya lihat tidak suka berbagi pengetahuan.

Pernah saya coba dekati tapi malahan saya yang jadi salah tingkah. Ngobrol-nya jadi kaku sekali. Maka, saya setop. Saya sebenarnya kasihan juga dan ingin bantu dia, tetapi tidak tahu bagaimana bicara sama dia.

Pertanyaan saya, apakah semua orang IT seperti itu? Saya pun ngeri dengan anak saya yang ada di SMA yang senang main komputer dan punya cita-cita masuk Teknik Komputer. Apa saran Bapak bagi para manager maupun orang tua seperti saya?

*Jarot S,* Bekasi

//

Jawaban

Pak Jarot serta para pembaca, memang pernah ada penelitian di sekitar tahun 1997 yang mengungkapkan bahwa orang-orang IT secara EQ jauh lebih rendah dibandingkan dengan profesi lainnya. Bahkan topik ini pun pernah dimuat di salah satu majalah bisnis yang diakui kredibilitasnya, Harvard Business Review.

Menurut isi artikel tersebut, ada beberapa tanda yang biasanya dijumpai pada orang IT yang menyebabkan mengapa mereka kemudian dianggap ber-EQ rendah. Namun, sebelum membaca lebih jauh tanda-tanda ini, tentunya hal ini lebih merupakan sebuah stereotipe daripada kenyataan yang sebenarnya.

Karena saya pun percaya, tidak berarti semua orang IT demikian. Bahkan, saya mengenal banyak teman di IT yang pergaulan sosial serta kariernya luar biasa. Jadi, hal ini sebaiknya tidak digeneralisasikan untuk semua orang IT.

Beberapa ciri pada orang IT yang kemudian dianggap EQ-nya kurang seperti: (1) orang-orang IT dianggap lebih banyak menggunakan IQ daripada EQ dalam pekerjaannya, (2) mereka lebih sulit berempati dan jarang menggunakan perasaannya dalam bertindak, (3) secara sosial pun orang IT lebih sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain, serta (4) orientasinya lebih banyak berhubungan dengan teknis (job) daripada manusia (people).

Hal ini diperparah lagi dengan berbagai realitas dan keluhan yang membuat orang IT dilabel demikian. Misalnya, kehidupan mereka yang berada di antara kotak komputernya. Bahkan, seorang istri pernah berkomentar soal suaminya, "Saat di depan komputer, itulah saat mereka
di dunia mereka sesungguhnya" .

Faktanya, kehidupan sosial merekapun jadi kurang, karena kebanyakan hanya bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang seminat dan kurang berbaur dengan unit lain di kantor. Bahkan, beberapa diantaranya sulit memahami kebutuhan orang lain, sehingga sering terjadi konflik dengan unit lain karena beda persepsi.

*Kurang fair*

Namun, realitas lain juga terkadang menunjukkan ada sikap kurang fair terhadap rekan-rekan kita di IT. Berbagai perlakuan 'khas' dan kurang fair yang seringkali dialami rekan-rekan IT misalnya: mereka diperlakukan hanya sebagai trouble shooter, hanya kalau ada masalah. Saat segalanya berjalan lancar, tidak diapresiasi sama sekali.

Orang ITpun jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting, hanya soal-soal teknis saja baru mereka dilibatkan. Makanya, jangan heran kalau orang IT sering jadi kehilangan konteks dengan gambaran besar suatu proyek yang tengah dikerjakan.

Dan buruknya, para orang IT-un sering dicap nerd, dikotakkan dan ditinggalkan. Mereka kurang dirangkul, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam berbagai proyek penting di kantor. Maka, kondisi sosial mereka yang buruk pun kadang menjadi tanggung jawab kita pula.

Di sinilah saya ingin menekankan mengapa EQ justru menjadi sangat penting bagi orang IT dewasa ini. Pertama, IT merupakan fungsi yang sangat vital. Banyak informasi dan data penting dapat diakses oleh orang IT. Dari data keuangan perusahaan hingga data pribadi setiap karyawan.

Bayangkan jika karakter orang IT itu bermasalah, data-data tersebut bisa disalahgunakan untuk hal yang merusak. Kedua, orang-orang IT pun sebenarnya banyak bersinggungan dengan pihak lain. Tidak diragukan lagi, IT adalah support bisnis yang penting dewasa ini.

Tanpa memiliki EQ yang baik, orang IT akan jadi sering konflik dengan pihak lain. Ketiga, tentunya ini juga menjadi tantangan bagi orang IT sendiri. Berbagai stereotipe pada orang IT yang dipaparkan di atas justru akan menjadi tantangan bagi mereka untuk menepis semua stereotipe yang keliru itu.

Nah, hingga di sini kita menjawab pertanyaan: apa saran serta tips yang bisa diberikan kepada para orang IT ini? Pertama-tama, orang IT harus Get out of your box. Jangan hanya bicara soal IT saja. Saya selalu menyarankan agar mereka berusaha punya minat dengan bidang-bidang lain, khususnya yang lebih banyak berhubungan dengan otak kanan seperti seni dan hobi lain.

Inilah yang harus Anda sarankan pada anak Anda. Terlibatlah untuk mengajaknya memasuki hobi yang berbeda, yang mengasah otak emosinya. Selain itu, di pekerjaan pun orang IT sangat disarankan untuk mau tahu serta terlibat dengan bidang-bidang lain.

Selain soal IT, saya selalu menyarankan agar para IT guys berusaha membangun business sense mereka. Bukan hanya bicara soal teknis saja, mereka pun harus bisa berbicara dari bahasa dan sudut pandang para user sehingga mereka akan lebih disukai. Inilah sebenarnya kendala utamanya.

Di sisi lain, saya menyarankan mereka lebih banyak membaca, mendengar bahkan sesekali mengikuti seminar yang berusaha mengimbangi hal-hal teknis IT dengan hal-hal yang bersifat people skills.

Akhirnya, saya pun menyarankan orang-orang IT selalu berusaha mengetahui area-area dalam EQ yang masih kurang. Caranya, dengan meminta feedback dari orang lain dan berusahalah menutupi area yang kurang tersebut dengan komitmen mengembangkan diri yang lebih baik.

Nah, untuk Pak Jarot dan juga pembaca lainnya, libatkanlah rekan-rekan IT dalam berbagai pergaulan dan pertemuan, sehingga mereka pun belajar mengasah EQ serta business sense mereka.

Akhirnya, saya seringkali mengatakan bahwa "Yang menakutkan kita bukanlah komputer yang bisa berpikir seperti manusia, tetapi manusia yang pikirannya seperti komputer".

Salah satu masalah komputer adalah mereka tidak berperasaan. So, tanggung jawab kita semua juga untuk mengembangkan orang IT yang ber-EQ tinggi!

Semoga Bisa Mengambil Maknanya. Jaya IT Indonesia

Wednesday, September 24, 2008

Romantisan

Beberapa waktu yang lalu, status gtalk dan Ym aku berisikan lagu-lagu akustik yang lagi aku dengar sewaktu OL. Tiba-tiba aku dapat dua chat dari dua orang berbeda.

Ib : Lagi jatuh cinta yah?
Me : Maksudnya?
Ib : Kamu lagi jatuh cinta yah?
Me : Ga. Napa?
Ib : Lagumu itu lah, lagu akustik yang themanya cinta-cinta gitu
Me : Emang aku suka akustik, kebetulan aja di PC aku lagu akustiknya itu.
Ib : Halah.. malu ngakuinnya
Me : Gak kq....

Then orang berikutnya

Ky : Suka lagu akustik yah?
Me : Yupi
Ky : Wah, kamu orangnya otomatis romantis dongs
Me : Ngarang qm...
Ky : Gak.. seriusan, itu tanda-tandanya.. dan otomatis kamu suka ma aku dongs..
Me : What?
Ky : Aku kan suka akustik juga, bisa mainin lagu dan musik akustik juga...

Mangararati orang ini kelihatannya.... langsung cabut dech aku dari pada makin mangararati... Hehehheeh

Tidak semua dari kita dapat menciptakan dan mendapatkan suasana romantis dari pasangan masing-masing.
Beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan seorang sahabat yang sangat menginginkan suasana romantis dari pasangannya, sayangnya pasangannya itu bukanlah orang romantis, dan selalu apa adanya aja. Sahabat aku itu sering uring-uringan juga dan selalu aja bilang 'Masa itu juga ga ngerti?? Masa hari-hari istimewa juga biasa aja buat dia, ga ada ngasih tunjuk itu istimewa... entah jalan berdua ato makan aja juga ga ada... ternyata ga nyaman dan ga enak banget pacaran dengan orang yang ga romantis....'
Hehehhheeeheeee.....
Hanya satu jawabanku 'Napa ga bilang langsung ke orangnya?? Toh juga ga semua manusia dibumi ini paranormal loch!!!'
Dia jawab 'udah.. tapi tiap saat dia lupa'
Hehhehheheheheee...
Gak tau lagi dech mau bilang apa.... kecuali 'sabar yah, tiap hal itu butuh waktu dan proses..'
Hehehheheheheeeee...

Aku juga pernah dengar curhatan dari seorang teman soal pacarnya
"Gw sayang banget ma pacar gw, cinta malah.. tapi pacar gw tu ga romantis, sebel juga kadang... gw suka BETE klo pacar gw ga ngarti-ngarti juga..."
Hehhehehehe.....

Pernah nonton film 'Pride & Prejudice' dungs yah, itu film lama. Aku aja da ga bisa diitung lagi berapa kali nonton film yang satu itu. I love the story.

Filmnya menceritakan sebuah keluarga (Benneth) yang memiliki 5 orang putri yang lom menikah, dan sudah menjadi beban buat orang tuanya, 'kapan sih mereka pada nikah?'
Pada akhirnya sih tiga orang putrinya menikah (Jane dengan Mr. Bingley, Lizzy dengan Mr. Darcy, Lydia dengan Mr. Wikcham.. klo ga salah sih!!!).

-------- cerita selengkapnya nonton aja yah ---------

Resensi filmnya ada di:
http://id.shvoong.com/books/classic-literature/1784873-pride-prejudice/
dan
http://id.shvoong.com/books/490433-pride-prejudice/

Awalnya sih, filmnya biasa aja dan susah banget dimengerti. But setelah nonton dua kali baru dech aku ngerti.
Buat aku ada yang lucu juga nonton film tu....
Ada seorang pendeta yang menurut aku kaku banget, kalau gak salah Mr. Collins. Gak kebayang kalau semua pendeta seperti itu gimana yah? Aku jadi bertanya-tanya 'Apakah papa aku juga seperti itu dulunya?' Menurut pengakuan kisah beliau, sepertinya sih enggak.
Pada awalnya Mr. Collins tu 'melirik' Jane, tapi dengan halus sang ibu nolak dengan bilang 'unfortunatly, Jane will be angaged sooner....', yang kemudian membuatnya 'melirik' Lizzy. Lizzy juga menolak beliau (Hehehhehee), menurut aku sih alasan
utama Lizzy menolaknya adalah sikap kakunya itu loch. Hal itu dibuktin waktu dia bilang 'Mr. Collins membuatmu kehilangan selera cinta'.. hehehhee
Lizzy juga sempat emosi (tepatnya sih sedikit tidak menerima) ketika Charllote(sahabatnya) menerima pinangan Mr. Collings. Tapi jawaban Charllote itu loch yang pantas ditiru. Charllote bilang 'Tidak semua dari kita mampu memperoleh dan menciptakan suasana romantis'.
Hehehheeee....

Bener juga kan apa yang dibilang Charllote itu. Tidak seluruh orang bisa menciptakan susana itu dan tidak semua orang mampu memperoleh suasana itu sesuai harapan. Dan sekarang aku baru mengerti perkataan 'I just love you, just the way you are..' mungkin karna hal ini juga yah.. hehheheeeheheeee

Bagi mereka pengagum romantisme, mungkin akan menyukai lagu-lagu ciptaan Jim Brickman dengan tingkat sastra yang tinggi.
Bagi mereka yang kurang mengagumi romantisme, mungkin akan menyukai lagu-lagu yang secara gamblang ngungkapin perasaan mereka.

Tak ada yang salah kan dengan hal itu? Terpulang ke personal yang mengalaminya.

Hehehehehehehhe